• Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Karir
  • Media Partner
Galamedia.id
  • Daerah
  • Nasional
  • Mancanegara
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Fashion
    • Sport
    • Wisata
    • Kuliner
  • Lainnya
    • Opini
    • Advertorial
  • Sosial
  • Daerah
  • Nasional
  • Mancanegara
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Fashion
    • Sport
    • Wisata
    • Kuliner
  • Lainnya
    • Opini
    • Advertorial
  • Sosial
No Result
View All Result
Galamedia.id

ESENSI HAJI: Dari Ritual Massal ke Revolusi Batin

Redaksi by Redaksi
Mei 25, 2026
in Opini
0
ESENSI HAJI: Dari Ritual Massal ke Revolusi Batin

Oleh: Abdullah Rasyid

Penulis:

*Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)

*Pendiri Great Institute

Setiap tahun, sekitar dua juta manusia meninggalkan rumahnya, menanggalkan jas, dasi, gelar doktor, seragam tentara, hingga jilbab bermerek, lalu mengenakan dua helai kain putih tak berjahit. Di Bandara King Abdulaziz, mereka bukan lagi menteri atau pedagang pasar. Mereka hanya satu kata: haji.

Itulah pemandangan yang membuat ibadah haji berbeda dari semua rukun Islam lainnya. Salat bisa dilakukan sendirian. Puasa adalah urusan perut masing-masing. Zakat dapat ditransfer lewat aplikasi. Namun, haji memaksa manusia hadir, berdesakan, kepanasan, dan kehilangan privasi.

Pertanyaan yang jarang kita ajukan di tengah euforia keberangkatan adalah: untuk apa semua ketidaknyamanan itu dirancang?

Dari Fikih ke Makna

Selama puluhan tahun, narasi haji di Indonesia didominasi oleh dua kutub: fikih dan logistik. Di pengajian, kita sibuk menghafal rukun, wajib, dam, dan larangan ihram. Di media, kita sibuk menghitung kuota, masa tunggu puluhan tahun, dan biaya haji plus.

Keduanya memang penting. Namun, keduanya belum menjawab kegelisahan yang ditulis Arifin Nugroho dalam Menyembelih yang Tak Tampak, dan jauh sebelumnya dibedah Ali Syariati dalam Haji: mengapa masjid kita penuh, tetapi korupsi tetap berjalan? Mengapa orang pulang bergelar haji, tetapi wataknya tidak berubah?

Jawabannya bukan pada kurangnya manasik, melainkan pada hilangnya esensi.

Haji bukan sekadar perjalanan geografis menuju Mekkah. Ia adalah perjalanan antropologis untuk kembali ke titik nol kemanusiaan.

Arafah: Republik Kesadaran

Inti haji sesungguhnya bukan di Ka’bah, melainkan di Arafah. Nabi SAW bersabda:

Al-Hajju Arafah
“Haji itu adalah Arafah.”

Mengapa Arafah begitu penting?

Kata Arafah berasal dari akar kata ‘arafa, yang berarti mengenal atau menyadari. Ia adalah satu-satunya rukun haji yang tidak bisa diwakilkan, tidak dapat ditebus dengan dam, dan tidak bisa diulang. Jika seseorang tertinggal wukuf, maka hajinya batal.

Ali Syariati menyebut Arafah sebagai “padang kesadaran”. Di sana, manusia dipaksa berhenti. Tidak ada tawaf, tidak ada sa’i, tidak ada lempar jumrah. Hanya diam, dari Dzuhur hingga Maghrib, di bawah matahari yang sama bagi presiden maupun pemulung.

Waktu itu dipilih bukan tanpa makna. Dzuhur adalah titik ketika matahari mulai tergelincir—simbol runtuhnya ego. Maghrib adalah datangnya gelap—simbol kematian.

Di antara dua waktu itu, manusia dipaksa jujur kepada dirinya sendiri: siapa dirinya tanpa jabatan, tanpa rekening, tanpa pengikut di media sosial?

Barangkali, inilah yang hilang dalam keberagamaan kita hari ini: kemampuan untuk berhenti.

Kita terus bergerak, terus membangun citra saleh di media sosial, tetapi tidak pernah benar-benar wukuf.

Jumrah: Perlawanan yang Disalahpahami

Setelah Arafah, jamaah tidak langsung pulang. Mereka menuju Muzdalifah, memungut tujuh kerikil kecil, lalu bergerak ke Mina untuk melempar jumrah.

Banyak orang memahami ritual ini sekadar simbol melawan setan. Padahal, sebagaimana diingatkan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hajj ayat 37, Allah tidak membutuhkan batu yang kita lemparkan.

Tujuh kerikil itu—bukan batu besar, bukan meriam—sesungguhnya adalah kurikulum politik tauhid.

Dalam tafsir sosiologis Ali Syariati, tiga jumrah melambangkan tiga wajah thaghut yang terus hidup sepanjang sejarah: Fir’aun sebagai simbol kekuasaan zalim, Qarun sebagai simbol kerakusan harta, dan Bal’am sebagai simbol agama yang diperjualbelikan.

Kita melempar dengan tangan yang lemah karena perlawanan sejati bukan soal kekuatan fisik, melainkan keberanian moral untuk berkata tidak.

Di Indonesia, jumrah itu dapat bermakna menolak pungli di kantor pelayanan, menolak praktik riba yang menindas, atau menolak ceramah yang memecah belah masyarakat.

Jika haji tidak melahirkan keberanian moral semacam itu, maka sesungguhnya kita hanya melempar beton, bukan setan.

Qurban: Menyembelih “Ismail” dalam Diri

Puncak dari seluruh perjalanan itu adalah qurban.

Kisah Nabi Ibrahim bukan kisah tentang seorang ayah yang tega kepada anaknya. Ia adalah kisah tentang cinta yang ditata ulang.

Allah tidak pernah meminta darah Ismail. Yang diminta adalah kesediaan Ibrahim untuk melepaskan sesuatu yang paling ia cintai.

Bagi manusia hari ini, Ismail bukan selalu anak.

Ismail bisa berupa kesombongan yang membuat kita sulit meminta maaf kepada pasangan. Ia bisa berupa kemalasan yang membuat kita meninggalkan salat Subuh. Ia bisa berupa cinta dunia yang membuat kita tega menyakiti orang lain demi jabatan dan proyek.

Inilah yang disebut Arifin Nugroho sebagai “transformasi kesalehan”.

Tanpa penyembelihan batin itu, haji hanya menambah gelar, bukan menambah takwa.

Pulang Sebagai Manusia Baru

Maqashid syariah, sebagaimana dirumuskan Ibn ‘Asyur, menegaskan bahwa ibadah tidak diturunkan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk melahirkan manusia rabbani.

Karena itu, ukuran haji mabrur bukan oleh-oleh air zamzam, bukan pula foto di depan Ka’bah.

Ukurannya jauh lebih sederhana, tetapi juga lebih sulit: apakah setelah pulang kita lebih mudah memaafkan? Apakah dagangan kita menjadi lebih jujur? Apakah lisan kita lebih terjaga?

Jika tidak, mungkin kita baru sampai ke Mekkah secara geografis, tetapi belum sampai secara spiritual.

Yaumut Tarwiyah adalah hari berpikir dan menyiapkan bekal. Semoga tahun ini, bekal terbesar yang kita bawa bukan koper 32 kilogram, melainkan keberanian untuk menyembelih yang tak tampak.

Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya berapa kali kita tawaf.

Ia akan bertanya: setelah semua putaran itu, apakah hatimu akhirnya berhenti di hadapan-Nya?

Previous Post

Plt. Direktur RSUD Kol Abundjani Bangko :  Gaji PPPK Paruh Waktu Sudah dibayarkan Sampai Maret 2026

Next Post

Jamaah Haji Kabupaten Merangin 2026 Berangkat ke Padang Arafah Melaksanakan Wukuf

Next Post
Jamaah Haji Kabupaten Merangin 2026 Berangkat ke Padang Arafah Melaksanakan Wukuf

Jamaah Haji Kabupaten Merangin 2026 Berangkat ke Padang Arafah Melaksanakan Wukuf

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Dapur Besar dan Titik Merah Kecil
  • Pererat Sinergi dengan Stakeholder, Jasa Raharja Muaro Bungo Sambangi Pemkab dan Polres Kerinci
  • Dapur Indonesia, Pesta Singapura: Membongkar Rantai Nilai yang Timpang
  • Kuliah Umum di UNJA, Gubernur Al Haris Ajak Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
  • Hesti Haris Gencarkan Gerakan Jambi Bersholawat, Perkuat Akhlak Masyarakat di Era Digital
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Karir
  • Media Partner

© 2021 Channel Berita 24 | Developed by: Websiteku.co.id

No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
  • Mancanegara
  • Politik
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Fashion
    • Sport
    • Wisata
    • Kuliner
  • Lainnya
    • Opini
    • Advertorial

© 2021 Channel Berita 24 | Developed by: Websiteku.co.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist