Oleh: Abdullah Rasyid
Pengurus MN KAHMI
Sulit membayangkan perasaan orang tua yang menerima kabar bahwa anak perempuannya ketakutan saat aparat menggeledah tempat mereka belajar dan tinggal. Jauh dari rumah, anak-anak itu tentu berharap pesantren menjadi tempat yang aman. Orang tua pun menitipkan mereka dengan kepercayaan yang sama.
Karena itu, dugaan tindakan intimidatif dalam penggeledahan di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, Mojolaban, Sukoharjo, terasa begitu mengusik. Ada anak-anak yang perasaannya perlu didengar. Ada keluarga yang membutuhkan penjelasan, sekaligus kepastian bahwa anak mereka diperlakukan dengan baik.
Pihak pesantren menyampaikan dugaan perlakuan kasar, termasuk pendobrakan pintu dan perlakuan terhadap santriwati yang belum siap mengenakan jilbab. Keterangan itu masih harus diperiksa. Namun, menunggu hasil pemeriksaan tidak berarti kita harus menunda empati kepada mereka yang merasa ketakutan.
Memahami Keresahan Keluarga
Kita memahami bahwa polisi memiliki tugas menegakkan hukum. Menurut penjelasan Polri, penggeledahan tersebut berkaitan dengan penyidikan kasus pembakaran, ancaman, dan perusakan. Perkara itu tentu perlu diusut, dan siapa pun yang terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pada saat yang sama, keluarga santriwati berhak mempertanyakan cara penggeledahan dilakukan. Mengapa harus dengan pendekatan yang mereka keluhkan? Apakah keberadaan anak-anak perempuan sudah diperhitungkan? Adakah cara yang memungkinkan penyidikan berjalan dengan tetap menjaga rasa aman mereka?
Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Orang tua tentu ingin tahu apa yang dialami anaknya, siapa yang mendampingi, dan apakah mereka mendapat kesempatan untuk menenangkan diri.
Bagi seorang anak, berhadapan dengan aparat dalam situasi yang menegangkan bisa menjadi pengalaman yang membekas. Kita perlu memberi ruang bagi mereka untuk bercerita, tanpa buru-buru menyanggah atau menganggap ketakutan mereka berlebihan.
Ketegasan yang Tetap Melindungi
Di sinilah kecermatan aparat menjadi penting. Sebelum memasuki tempat tinggal santriwati, informasi mengenai penghuni, sasaran pencarian, dan tingkat ancaman semestinya dipahami dengan baik.
Pendalaman informasi dan kerja intelijen perlu menjadi bagian dari evaluasi. Apakah persiapannya sudah memadai? Apakah petugas mengetahui siapa saja yang berada di dalam? Bagaimana perlindungan terhadap anak direncanakan dan dijalankan?
Kita belum mengetahui seluruh jawabannya. Karena itu, pemeriksaan diperlukan agar dugaan tindakan yang terkesan tergesa-gesa dapat dijelaskan secara utuh.
Jika benar terjadi intimidasi terhadap santriwati, tindakan tersebut patut dikecam. Anak-anak tidak boleh menanggung perlakuan yang merendahkan hanya karena mereka berada di lokasi penggeledahan.
Saya percaya masyarakat dapat memahami ketegasan polisi ketika alasan dan tindakannya jelas. Kepercayaan itu akan lebih kuat ketika aparat juga menunjukkan kesediaan mendengar keluhan dan mengakui kesalahan apabila memang terjadi.
Berikan Jawaban yang Menenangkan
Polri telah menyatakan empati dan komitmen untuk mendalami keluhan melalui pengawasan internal, termasuk Propam. Keluarga tentu berharap komitmen tersebut menghasilkan pemeriksaan yang sungguh-sungguh.
Mereka membutuhkan jawaban mengenai apa yang terjadi, mengapa tindakan itu diambil, dan siapa yang bertanggung jawab. Pemeriksaan perlu menjangkau petugas lapangan maupun pihak yang merencanakan, memerintahkan, dan mengawasi operasi.
Desakan dari kalangan ormas Islam agar kepemimpinan Kapolda Jawa Tengah dievaluasi juga perlu didengar dengan terbuka. Jika ditemukan pelanggaran berat atau kegagalan pengawasan yang menjadi tanggung jawab pimpinan, pencopotan layak dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Kesediaan untuk bertanggung jawab akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat. Begitu pula permintaan maaf yang tulus apabila terbukti ada tindakan yang keliru.
Dengarkan Anak-anak Itu
Sementara pemeriksaan berjalan, kebutuhan santriwati jangan sampai terlupakan. Mereka yang mengalami ketakutan perlu mendapat pendampingan sesuai kebutuhan. Pengasuh dan keluarga perlu dilibatkan agar mereka dapat kembali belajar dengan tenang.
Jangan sampai anak-anak harus berulang kali menceritakan pengalaman yang menyakitkan hanya untuk meyakinkan orang dewasa bahwa mereka memang merasa takut. Dengarkan dengan sabar, lindungi privasinya, dan pastikan mereka aman ketika memberikan keterangan.
Pada akhirnya, kita ingin anak-anak mengenal polisi sebagai orang yang dapat mereka datangi saat membutuhkan pertolongan. Harapan itu sederhana, tetapi sangat berarti bagi setiap keluarga.
Semoga dari peristiwa ini, yang mereka ingat kelak juga adalah kesungguhan orang-orang dewasa untuk mendengar, melindungi, dan mengembalikan rasa aman mereka.
