GALAMEDIA – Kenaikan harga timah yang saat ini menembus angka Rp200.000 per kilogram membawa dampak destruktif yang semakin nyata di lapangan. Alih-alih menjadi berkah ekonomi, lonjakan harga ini justru menjadi bahan bakar meledaknya aktivitas penambangan timah ilegal di wilayah Kabupaten Bangka, khususnya Kota Sungailiat.
Kondisi ini kini makin tak terkendali. Di dekat kawasan wisata Puri Ansel, hanya selemparan batu dari Pantai Sungailiat, puluhan unit alat tambang ilegal (TI) menyerbu dengan bebas, tanpa sedikit pun mengindahkan aturan lingkungan atau batas wilayah.
Pemandangan miris ini terjadi pada Minggu (20/07/2025) siang, saat sejumlah media turun ke lokasi. Deru mesin tambang dan kubangan tanah rusak menyambut kedatangan tim media. Area dekat pantai yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu daya tarik wisata di Kota Sungailiat, kini berubah menjadi zona kerusakan terbuka yang mengancam ekosistem pesisir dan citra pariwisata Bangka.
“Ini benar-benar gila. Kalau sudah seperti ini, kita mau jual pariwisata atau tambang liar?” ujar ED, Tokoh Masyarakat Bangka, dengan nada kesal.
Lebih lanjut, ED juga mempertanyakan kinerja Polres Bangka, yang dinilai tidak bertindak tegas atas situasi yang sudah berlangsung terang-terangan ini.
“Untuk apa ada Polres Bangka kalau penegakan hukum tambang ilegal seperti ini saja dibiarkan? Mereka (penambang ilegal) seolah tak punya rasa takut sedikit pun,” tegasnya.
Polisi Diduga Tahu tapi Diam?
Masyarakat menduga keras bahwa kegiatan penambangan ilegal ini tidak mungkin berlangsung begitu masif tanpa ‘pembiaran’ atau ‘toleransi’ dari aparat penegak hukum. Mereka menantikan ketegasan dari Kapolres Bangka untuk menindak, bukan hanya sekadar melakukan “penertiban kosmetik” yang tidak berdampak jangka panjang.
“Kalau seperti ini terus, rusak semua pantai. Anak cucu kita nanti cuma bisa lihat foto Pantai Sungailiat. Bukan main pasir, tapi main di lubang tambang,” ujar warga lain dengan nada prihatin.
Ancaman Nyata untuk Pariwisata dan Lingkungan
Wilayah sekitar Puri Ansel dan Pantai Sungailiat merupakan zona penting yang selama ini menopang industri pariwisata lokal. Dengan adanya tambang ilegal, potensi kerusakan bukan hanya pada lingkungan dan estetika pantai, tapi juga berdampak pada mata pencaharian yang bergantung pada sektor wisata.
Ekosistem laut, kebersihan pantai, serta ketertarikan wisatawan bisa hilang dalam waktu cepat jika aktivitas tambang liar ini tidak dihentikan.
Masyarakat Siap Lapor ke Gubernur dan Kapolda
Sejumlah warga menyatakan akan segera membuat laporan terbuka kepada Gubernur Bangka Belitung dan Kapolda Babel, bahkan akan menggalang petisi jika dalam waktu dekat Polres Bangka tidak mengambil tindakan nyata.
“Kami akan laporkan ke Gubernur dan APH. Tidak bisa Sungailiat dijadikan tempat pembiaran tambang ilegal. Kami tidak anti tambang, tapi jangan rusak sembarangan,” ucap ED menutup.
Hingga berita ini diturunkan, Polres Bangka masih diupayakan untuk dimintai memberikan keterangan resmi terkait situasi tambang ilegal yang semakin masif di Kota Sungailiat, khususnya di sekitar Puri Ansel.
Tim redaksi juga masih berusaha melakukan konfirmasi kepada Kajati Babel, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas ESDM Bangka Belitung terkait langkah-langkah penindakan serta pemetaan zona rawan tambang ilegal.
Redaksi akan terus memantau perkembangan situasi ini dan menyampaikan segala temuan kepada publik. Masyarakat yang memiliki informasi tambahan atau dokumentasi dapat mengirimkannya ke redaksi melalui kontak resmi. (Tim)








